Salah Gaya makan di Warteg

Mirip Warteg depan rumah :)

Mirip Warteg depan rumah🙂

Ini pengalaman saat makan di warteg depan rumah.
Pagi itu seperti biasa (seperti biasanya anak kust – baca anak kost, ngirit se-irit mungkin), makan pagi dan siang (include jadi satu) dilaksanakan bersamaan jam 10-an. Dengan gaya santai dan easy going, mesan nasi dan lauknya seadanya asalkan masih ber-gizi dan enak, dan yang terpenting meriah (kata sederhana dari murah).
Saat enak-enaknya makan, kemudian datang dua orang ibu bersama dengan anaknya masing-masing.

Antara Iba dan ***

Antara Iba dan ***

Mereka juga mesan nasi seadanya (nasi setengah, usus, dan minumnya es tawar). Sejak mereka datang saya udah masang gaya “tidak mau tau” dengan mereka (karena emang saya biasanya gitu, tidak tau kalau pembaca, klo ada pengemis atau peminta-minta datang, biasanya saya selalu cuek, tidak mau tau mereka ngapain, separah apa mereka, seserius apa mereka ingin meminta, atau separah apa mereka karena harus berbohong padahal mereka seharusnya bisa melakukan pekerjaan lain yang lebih baik/mulia).
Dari mereka mulai makan, sampai selesai tidak sedikitpun gw ingin mencoba memperhatikan mereka, jangankan untuk ngajak ngobrol, huh, i’m suck… Yang lebih parah lagi saat mereka ingin bayar, dengan mengeluarkan recehan sejumlah Rp 4.500,- (sehingga total Rp 9.000,- untuk makan mereka ber-empat – ibu dan anaknya), dalam hati saya sebenarnya sudah ingin membayarkan biaya makan mereka tersebut, tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, saya sudah salah gaya.. Padahal uang gw saat itu Rp 50.000,- Argghhh… (pengen teriak gw klo ingat itu)
Sejak itu saya berjanji klo nanti ketemu yang kaya gitu lagi, saya akan terbuka (just it..???)

Aku rindu Muhammad SAW

Aku rindu Muhammad SAW

Dan besoknya, subhanallah merupakan kebesaran Ilahi Robbi, di kantor, saat melaksanakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus perpisahan dengan Kepala Lembaga Sandi Negara, saya dapat kesempatan untuk mewujudkan nadzar-nya Bapak H. Nachrowi Ramli, S.E. yaitu melaksanakan Umrah ke Mekkah. (Selanjutnya saya tidak bisa berkomentar apa-apa selain ucapan Syukur kepada Ilahi Robbi, dan berharap agar perjalanan yang akan dilaksanakan tanggal 23 April 2009 ini berjalan lancar).

~ by Mora H. Ritonga on March 27, 2009.

5 Responses to “Salah Gaya makan di Warteg”

  1. Aq pernah saksikan sendiri, ketika itu aq lg ke rmh temen, tepatnya di Daerah Surabaya, dan Mojokerto (Jatim). Kejadian ini bisa buat aq tertegun keheranan, bayangkan aja… Para saudara qt, yg katanya kurang beruntung ini, melakukan kegiatan meminta2 sedekah dgn rombongan (5-15 org) dlm melakukan. Jadi sang tuan rumah-pun klo ngasih duit, ngitung dulu rombongan tsbt ada brp org…Ckkk..ckkk…Kejadian ini dlm 1 hari bisa 10-20 kali rombongan. Tp ada hari2 tertentu dlm 1 minggu yg gak boleh ada kegiatan meminta2 sedekah. Adakah pengalaman di daerah anda, seperti diatas?

  2. Waduh, klo rombongan blm pernah liat sih, yang pernah saya liat (yg agak aneh) adalah adanya tuan yang nungguin di pinggir jalan, dan yang disuruh itu adalah anak kecil, huh.. antar kesal dan iba..
    Ini harusnya diapain ya? Pemerintah harusnya memikirkan ini lebih teliti lagi..

  3. Makanya nikah aja mas, biar gak makan di warteg lagi..:D

  4. Bro…
    kalo di pikiran udah terlintas niatan baik, jangan ditunda…
    entar keburu nyesel
    🙂

  5. @cokelatholic
    Iya neh, Insya Allah gak akan diulangi lagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: