Masjid sudah pindah ke gedung bioskop ?

Fantastis. Inilah kata yang tepat untuk perolehan jumlah penonton film Ayat-ayat Cinta. Bayangkan, hanya butuh waktu dua minggu, untuk menembus angka dua juta penonton. Dan, memasuki minggu keempat ini, jumlah pengunjung tetap membludak. Perjuangan saya untuk nonton film ini lewat jalur biasa, datang ke gedung bioskop dua jam sebelum pertunjukan, dua kali sudah, sia-sia belaka. Kata beberapa teman saya, kalau mau dapat karcis, harus pesan dari jam 10 pagi, atau bahkan beberapa hari sebelum jam pertunjukan. Film tentang hantu mana yang bisa mengalahkan fenomena ini? Atau, sebut satu saja film komedi lokal yang belakangan ini dipenuhi jalan cerita dan idiom-idiom yang biasanya kita temukan di situs-situs porno, yang bisa menandingi jumlah penonton film ini. Rasanya, tidak ada (sejauh pengathuan saya), hal yang fantastis lagi adalah adanya sebuah fenomena yang dasyat ketika banyak anak-anak muda berlomba-lomba ber-lifestyle seperti aisha dan fahri, 2 sosok ini menjadi sebuah figur yang dijadikan “kitab” anak muda saat ini baik cara berpakaian, cara bertutur-kata, bahkan sampai gaya ber-pacaranpun sudah mirip dengan aisha dan fahri..sehingga muncul fahri-fahri baru dan aisha-aisha baru yang maybe sudah melenceng dari karakter dalam novel aslinya,

Lebih lanjut saya menangkap adanya pengaruh budaya yang sangat luar biasa besar, semua berbondong bondong untuk muslim-style, dari gaya pakaian, sinatron-sintron berbau agama menjamur banget, RBT ( Ring Back Tone), Nada Dering, lagu-lagu yang bernafaskan religi (bahkan nyanyi religi dengan penyanyi cowok yang menggunakan anting-pun ndak masalah), bahkan yang lebih parah lagi seorang koruptor-pun ketika mengahadiri sidang menggunakan baju koko (wah gawat iki). menjadikan film religi sebagai style of life-nya (padahal ada gosip nih – pemain cewek sinetron religi ngerokok)

Padahal sebelumnya mengaji saja tidak, denger adzan aja dianggap sebuah dering kebiasaan yang direspon dengan oh sudah adzan to, diajak ke mesjid selalu dijawab sholat dirumah saja lebih tenang…itulah manusia…(saya pun menyadari masih jauh dari sempurna tapi biasa aja kaleee liat film-film yang kayak ayat-ayat cinta) ini yang saya takutkan ketika masyarakat kita yang mudah ter-spark oleh budaya-budaya -asal kita tahu aza produser ayat-ayat cinta itu non-muslim lho D

copied from others

~ by Mora H. Ritonga on December 23, 2008.

2 Responses to “Masjid sudah pindah ke gedung bioskop ?”

  1. masjid gak pindah kok.

    saya dulu seperti anda. kuat dan bersemangat. menolak apapun dan siapapun yang tidak sesuai dengan islam. berapi-api mengatakan syar’i dan tidak. seperti umar bin khattab, itulah saya. lantang dan tidak kenal kompromi, saya mencemooh para muslimah yang berjilbab pendek, saya mencibir lagu religi karna berpotensi khalwat dan para fans yang memuja.

    tapi saya terbentur pada kenyataan. ada banyak cara memperkenalkan islam, dan memperkenalkannya langsung seluruhnya sampai ke akar-akarnya dalam satu waktu adalah pilihan yang kurang tepat. bahkan alquran pun diturunkan ayat per ayat. butuh waktu dua puluh tahun. para sahabat tidak mempelajari ayat berikutnya jika ayat sebelumnya belum dapat dipahami mereka.

    saya rasa, orang-orang yang berjilbab pendek mereka baru bisa melaksanakan syariat sampai di situ dan kita harus menghargainya. mereka belum mau memakai jilbab panjang, tidak perlu dipaksakan. perlahan-lahan. bertahap. itulah islam.

    orang-orang yang suka lagu religi, memfavoritkannya, janganlah kita menghardiknya. katakan perlahan-lahan bahwa etika dalam islam itu begini dan begitu, maka lagu religi menjadi sarana memperkenalkan islam.

    film AAC memang membuat fenomena yang bagi sebagian orang terasa miris. orang bisa dengan mudah memakai simbol-simbol islam namun tidak melaksanakan intinya, makna sesungguhnya, tapi mari kita hargai. orang-orang mau mengenal islam saja kita sudah bersyukur loh, di negara2 lain orang masih banyak yang mencemooh islam.

    saya memandang film AAC adalah upaya pihak2 yang ingin memperkenalkan islam. kita harus hargai. mereka mau aja sudah syukur. sudah termasuk dakwah. coba tanya diri sendiri, apa yang sudah kita dakwahkan? apa dakwah kita sebesar film AAC yang menyedot perhatian penonton segitu banyak? mungkin memang efeknya baru sebatas budaya, belum inti ajaran islam seperti yang anda bilang, tapi masyarakat kita baru bisa segitu, ya kita hargai. pelan2 kita bisa memberitahu inti ajaran islam kaya apa. yang dinilai Allah bukan hasilnya, yang dinilai Allah usahanya.

    soal produser yang non muslim, apa masalahnya? anda pikir mereka punya motif tertentu memproduseri film ini? jika ya, coba lihat materi filmnya, ada yang menjelek2kan islam? saya rasa bisa dibilang tidak ada. lalu kenapa jadi masalah? rasulullah bahkan berdagang dengan nasrani dan yahudi, baju besinya ada yang dibeli yahudi dan beliau gak masalah tuh.

    soal zaskia yang merokok, kembali ke atas tadi, dia baru bisa berjilbab dan merokok, belum bisa berjilbab dan tidak merokok, memang ironis, tapi apakah keburukannya yang ‘cuma’ satu itu akan menghapuskan seluruh kebaikannya? saya yakin zaskia sudah tahu apa keburukan merokok, dalam beberapa wawancara dia tidak mengelak soal dia merokok -coba kita lihat, dia jujur dan
    tidak menutupi kesalahannya- namun dia juga bilang bahwa dia paham buruknya merokok. dan jika dia tahu satu hal buruk dan belum menghindarinya, pasti ada sebabnya. sejahat-jahatnya seorang pembunuh, pasti ada sebabnya. psikis, bisa saja. fisik. mungkin dia sedang berusaha berhenti tapi belum berhasil. cobalah kita menempatkan diri di posisinya, jika kita melakukan kesalahan dan orang lain mencibir dan tidak bersimpati pasti kita sedih banget. apalagi saudara seagama. beri nasehat. dan berilah WAKTU. keimanan seseorang itu grafiknya bukan selalu naik, lho, tapi seperti gelombang longitudinal, kadang naik, kadang turun.

    soal penyanyi religi pake anting? siapapun yang mengajak kepada kebaikan, sekalipun dia pembunuh atau seorang penjahat sekejam apapun, kebaikan yang dia ajak tidak akan ternodai oleh penampilannya. yang penting apa yang dia sampaikan benar2 nilai islam, bukan menjelek2kan islam. ambil kebaikannya, ambil ajakan mengingat Allah dari si penyanyi religi dan jangan pedulikan antingnya. kalo ternyata kelakuan dia gak sesuai ucapannya, jangan pedulikan, kebaikan yang dia bawa lewat lagunya tetap berharga. dikatakan, “…sampaikanlah walau hanya satu ayat…” dan dari siapapun ayat itu muncul, mari hargai ayat itu, manusia akan selalu terombang-ambing dalam kebaikan dan kejahatan, tapi ajaran islam akan tetap ajaran islam, siapapun yang mengatakannya. asal tahu saja, banyak ilmuwan non muslim yang bisa bahasa arab dan memahami secara literasi -bahkan maknawi- ajaran islam, meski mereka tetap non-muslim. kalau mereka memberi ilmu tentang islam pada kita, ambil ilmunya, jangan pedulikan siapa yang membawa ilmu itu. konon lagi penyanyi religi yang sudah jelas islam meski dia pake anting.

    soal koruptor pake baju koko? yang penting kita udah tau dia koruptor, yah jangan dipercayai meski dia mau mengutip alquran seberapa banyak pun, dia tetap koruptor. lebih ironis lagi ustadz yang pake baju koko tapi gak mau ceramah kalo gak dibayar. ini nyata, di kampung saya banyak.

    dunia ini, saking beragamnya orang2, kita harus menyesuaikan dakwah kita dengan mereka. dakwah itu luas. bisa lewat film, bisa lewat musik. yang pasti jika kita tidak menggunakan media film dan musik, jalan dakwah kita berkurang. paham2 lain

    seperti komunis, fasis, atheis dll. lebih mudah merasuki anak2 muda di dunia karena penyajiannya lebih menarik bagi mereka. seharusnya kita pun memperkenalkan islam dengan sarana yang disukai anak muda dan film dan musik adalah salah satunya.

    yang jelas, usaha untuk menyampaikan islam pada masyarakat tidak cukup sekali dua kali dakwah. harus terus menerus dan sekecil apapun progres yang kita dapat, kita harus menghargai upaya siapapun yang berdakwah.

  2. @X-Ray
    Terima kasih atas penjelasannya yg panjang lebar, semoga saya juga dapat ilmu dari situ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: